Indeks Dolar AS (DXY) tertekan di kisaran 98,40 pada awal perdagangan Asia hari Senin, melanjutkan penurunan dari sesi sebelumnya. Tekanan ini terjadi karena penutupan pemerintahan AS telah memasuki hari ke-19 tanpa tanda-tanda solusi, menjadikannya salah satu shutdown terpanjang dalam sejarah modern AS. Ketidakpastian ini membuat pelaku Pasar lebih berhati-hati terhadap aset berbasis Dolar.
Selain itu, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga makin menguat. Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas penurunan suku bunga pada bulan Oktober kini hampir 100%, dan 96% untuk bulan Desember. Presiden Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyebut bahwa jika risiko terhadap Pasar kerja meningkat dan inflasi tetap terkendali, ia mendukung langkah pemangkasan lanjutan — menandakan bahwa arah kebijakan moneter tetap fleksibel dan bergantung pada kondisi ekonomi terbaru.
Sementara itu, dari sisi geopolitik, Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa AS bisa mempertimbangkan untuk menurunkan Tarif terhadap China, tetapi Beijing juga harus memberi timbal balik, termasuk dalam hal pembelian kedelai. Trump juga yakin kesepakatan bisa tercapai, terutama terkait komoditas pertanian. Pernyataan ini sedikit meredakan ketegangan Pasar dan memberikan batas bawah bagi pelemahan Dolar lebih lanjut.
Rencananya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent akan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng dalam beberapa hari ke depan, menjelang kemungkinan pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden Xi di akhir bulan. Jika pembicaraan ini membuahkan hasil, sentimen Pasar bisa membaik, namun selama ketidakpastian fiskal dan suku bunga tetap tinggi, Dolar berpotensi tetap di bawah tekanan dalam jangka pendek.(asd)
Sumber: newsmaker.id
Dolar Melemah, Shutdown dan Potensi Pemangkasan Bunga Tekan Pasar
