Dolar AS Melemah, Harga Minyak Anjlok, dan Pemilu AS Jadi Sorotan Pasar

PT Rifan Financindo Berjangka – Pergerakan pasar keuangan global menjadi perhatian investor pada Selasa, 3 November 2026. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan, sementara harga minyak dunia turun tajam. Di sisi lain, pemilihan paruh waktu Amerika Serikat atau midterm election ikut menjadi perhatian pelaku pasar.

Ketiga faktor tersebut dapat memengaruhi arah perdagangan aset global. Investor kini mencermati perkembangan politik AS, kondisi ekonomi dunia, serta perubahan harga komoditas. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Dolar AS Tertekan oleh Penurunan Harga Minyak

Indeks dolar AS (DXY) melemah sekitar 0,22% ke posisi 101,76 pada perdagangan Senin. Sebelumnya, indeks tersebut sempat menyentuh 101,42 atau level terendah sejak akhir September 2026.

Pelemahan dolar terjadi setelah harga minyak mentah turun sekitar 7%. Penurunan ini muncul seiring berlanjutnya pembicaraan diplomatik antara Iran dan Qatar untuk mencari jalan keluar dari konflik Timur Tengah.

Turunnya harga energi mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut juga mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS sehingga memberikan tekanan tambahan bagi dolar.

Euro ikut mendapat dukungan dari kondisi tersebut. Mata uang Eropa itu naik sekitar 0,3% ke US$1,1192 terhadap dolar AS. Sementara itu, yen Jepang bergerak relatif stabil di sekitar 157,915 per dolar.

 

Harga Minyak Dunia Anjlok Akibat Harapan Diplomasi

Harga minyak mentah Brent mengalami penurunan tajam setelah muncul harapan baru mengenai penyelesaian konflik AS dan Iran. Pembicaraan diplomatik yang melibatkan Iran dan Qatar meningkatkan harapan pasar terhadap berkurangnya gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.

Minyak Brent turun US$8,66 atau sekitar 7,6% menjadi US$104,77 per barel. Penurunan tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Turunnya harga minyak memberikan keuntungan bagi sejumlah sektor yang membutuhkan energi dalam jumlah besar. Perusahaan penerbangan dan transportasi berpeluang menikmati biaya operasional yang lebih rendah.

Namun, saham perusahaan energi justru menghadapi tekanan. Investor mulai memperhitungkan kemungkinan turunnya pendapatan perusahaan apabila harga minyak terus melemah.

 

Pemilu Paruh Waktu AS Menjadi Perhatian Investor

Pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026 menjadi salah satu agenda penting bagi pasar keuangan. Hasil pemilu akan menentukan komposisi kekuatan politik di Kongres AS.

Investor memperhatikan kemungkinan perubahan kebijakan pemerintah, terutama terkait anggaran negara, pajak, dan pengawasan industri teknologi.

Jika Partai Demokrat berhasil menguasai DPR, kebijakan pemerintahan berpotensi menghadapi pengawasan lebih ketat. Sementara itu, persaingan untuk menguasai Senat masih menjadi perhatian pasar.

Perubahan komposisi Kongres juga dapat memengaruhi kebijakan investasi kecerdasan buatan. Perusahaan teknologi berpotensi menghadapi aturan baru mengenai pembangunan pusat data dan penggunaan AI.

Ketidakpastian politik tersebut dapat memengaruhi pergerakan dolar AS. Investor biasanya lebih berhati-hati ketika arah kebijakan ekonomi belum terlihat jelas.

 

Data Ekonomi dan Kebijakan Bank Sentral Ikut Dipantau

Selain pemilu, investor juga menunggu sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Laporan ketenagakerjaan menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Data manufaktur AS pada Oktober menunjukkan peningkatan. Indeks aktivitas manufaktur atau Purchasing Managers’ Index (PMI) naik menjadi 55,5 dari 54,5 pada September.

Angka tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur masih berkembang. Namun, harga bahan baku yang tetap tinggi dapat menjadi tantangan bagi perusahaan dan konsumen.

Pasar juga menantikan keputusan sejumlah bank sentral besar pada pekan ini. Bank sentral Australia dan Bank of England menjadi dua lembaga yang masuk dalam perhatian investor.

Perubahan suku bunga dapat memengaruhi daya tarik mata uang masing-masing negara. Karena itu, pelaku pasar akan mencermati setiap pernyataan pejabat bank sentral sebelum menentukan posisi investasi.

 

Prospek Dolar AS dan Minyak Dunia

Dalam jangka pendek, dolar AS masih menghadapi tekanan dari penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi. Namun, ketidakpastian menjelang pemilu AS serta kekhawatiran terhadap saham teknologi dapat menjaga permintaan dolar sebagai aset aman.

Harga minyak juga berpotensi bergerak tidak stabil. Perkembangan pembicaraan Iran dan Qatar akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga energi berikutnya.

Investor perlu memperhatikan tiga faktor utama, yaitu hasil pemilu AS, perkembangan konflik Timur Tengah, dan data ekonomi Amerika Serikat.

Ketiganya dapat memengaruhi pergerakan dolar, harga minyak, serta pasar keuangan global dalam beberapa hari ke depan.

Kesimpulan: Pelemahan dolar AS dan anjloknya harga minyak menunjukkan perubahan sentimen pasar menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Meski harapan perdamaian memberikan dukungan bagi pasar, ketidakpastian politik dan ekonomi masih berpotensi memicu pergerakan harga yang tajam.

PT Rifan Financindo Berjangka – Glh

Sumber : NewsMaker