Harga Minyak Bertahan Tinggi, Krisis BBM Jadi Perhatian Pasar

PT Rifan Financindo Berjangka – Harga minyak mentah masih bertahan pada level tinggi memasuki Oktober 2026. Pasar energi global belum sepenuhnya terbebas dari tekanan karena ketidakpastian pasokan Timur Tengah, kebuntuan diplomasi Amerika Serikat dan Iran, serta semakin ketatnya ketersediaan bahan bakar olahan.

Pada perdagangan terakhir September, harga Brent untuk kontrak November ditutup di sekitar US$103,50 per barel, naik US$0,91. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menetap di US$90,42 per barel setelah menguat US$1,04. Kenaikan tersebut membuat Brent mencatat penguatan sekitar 14 persen sepanjang September.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perhatian pasar tidak lagi hanya tertuju pada ketersediaan minyak mentah. Persediaan bensin dan produk distilat yang menurun, aktivitas kilang yang terbatas, serta tingginya biaya pengangkutan membuat pasar bahan bakar menghadapi tekanan tersendiri.

Harga Minyak Masih Ditopang Risiko Pasokan

Salah satu faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi adalah ketidakpastian terkait pasokan dari Timur Tengah.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa ekspor minyak kawasan tersebut mulai pulih. Arab Saudi bahkan kembali mengalirkan minyak melalui pelabuhan di Laut Merah, sehingga sebagian pasokan dapat bergerak tanpa bergantung sepenuhnya pada Selat Hormuz. Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk telah mencapai sekitar 23,3 juta barel per hari dalam sepekan terakhir.

Namun, pemulihan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko.

Selat Hormuz tetap menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat meningkatkan biaya pengiriman dan mempersempit pilihan rute bagi kapal tanker.

Karena itu, setiap perkembangan terkait hubungan AS dan Iran masih menjadi perhatian pelaku pasar. Kebuntuan pembicaraan perdamaian membuat investor tetap memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.

Krisis BBM Mulai Menjadi Perhatian

Tekanan terbesar saat ini justru terlihat pada pasar produk minyak olahan.

Badan Energi Internasional atau IEA dalam laporan September 2026 menyebut pasar diesel mengalami tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan minyak mentah. Harga diesel/gasoil di Amerika Serikat sempat menembus US$200 per barel pada awal September, sekitar 94 persen lebih tinggi dibandingkan level sebelum konflik. Harga produk serupa di Eropa dan Asia juga mengalami tekanan.

Kondisi tersebut terjadi karena gangguan pada ekspor produk olahan dari kawasan Teluk berlangsung lebih parah dibandingkan gangguan terhadap ekspor minyak mentah.

IEA memperkirakan ekspor produk olahan dan LPG dari kawasan Teluk masih sekitar 60 persen atau 3,7 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan Februari. Ekspor bersih diesel dan gasoil dari negara-negara Teluk pada Agustus juga hanya sedikit di atas seperempat level sebelum konflik.

Situasi tersebut dapat menciptakan ketidakseimbangan antara pasokan minyak mentah dan ketersediaan BBM yang siap digunakan konsumen.

Aktivitas Kilang Menjadi Faktor Penting

Ketersediaan BBM tidak hanya bergantung pada jumlah minyak mentah yang diproduksi. Minyak tersebut harus diproses terlebih dahulu di kilang sebelum berubah menjadi bensin, diesel, avtur, dan produk lainnya.

IEA mencatat throughput kilang global mencapai 81,4 juta barel per hari pada Agustus, tetapi masih 4,2 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Margin pengolahan juga mencapai tingkat yang sangat tinggi, terutama di kawasan Atlantik, akibat kenaikan harga diesel.

Gangguan fasilitas pengolahan di sejumlah wilayah semakin memperketat pasar produk minyak.

Artinya, sekalipun pasokan minyak mentah mulai menunjukkan pemulihan, pasar tetap dapat menghadapi kekurangan BBM apabila kapasitas pengolahan dan distribusi belum kembali normal.

Persediaan Minyak Global Menyusut

Persediaan juga menjadi perhatian penting memasuki kuartal terakhir 2026.

Menurut IEA, persediaan minyak yang terpantau secara global kembali berkurang sebesar 95 juta barel pada Agustus. Akumulasi penurunan sejak Februari mencapai sekitar 507 juta barel atau rata-rata 2,8 juta barel per hari.

Penurunan stok membuat pasar memiliki bantalan yang lebih tipis ketika terjadi gangguan pasokan baru.

Dalam kondisi normal, persediaan yang tinggi dapat membantu meredam lonjakan harga ketika pasokan terganggu. Sebaliknya, ketika stok sudah terkuras, gangguan kecil sekalipun dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap harga dan ketersediaan produk.

Konflik AS-Iran Masih Menjadi Risiko Utama

Pergerakan harga minyak pada akhir September kembali menunjukkan besarnya pengaruh perkembangan geopolitik.

Pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran belum menghasilkan terobosan yang mampu memberikan kepastian mengenai normalisasi perdagangan energi. Pada saat yang sama, Presiden Donald Trump membantah laporan bahwa Washington siap melonggarkan sanksi terhadap Iran dengan imbalan komitmen terkait program nuklir.

Ketidakpastian tersebut membuat pasar harus memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan yang berlangsung lebih lama.

Sebelumnya, Brent bahkan sempat menembus US$100 per barel pada September ketika eskalasi konflik meningkatkan kekhawatiran terhadap pengiriman energi melalui kawasan Timur Tengah.

Harga BBM Berpotensi Tetap Mendapat Tekanan

Kenaikan harga minyak mentah tidak selalu langsung diterjemahkan menjadi kenaikan harga BBM dalam besaran yang sama. Namun, apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama dan disertai keterbatasan produk olahan, tekanan terhadap harga bahan bakar dapat menjadi lebih kuat.

Perkembangan harga BBM di Uni Emirat Arab memberikan salah satu gambaran mengenai transmisi kenaikan harga energi global. Untuk Oktober 2026, harga bensin dan diesel di negara tersebut naik cukup tajam dibandingkan September.

Harga bensin E-Plus 91 ditetapkan sebesar 4,21 dirham per liter, Special 95 sebesar 4,28 dirham, Super 98 sebesar 4,40 dirham, sementara diesel mencapai 4,80 dirham per liter.

Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana pergerakan harga minyak global dapat memberikan tekanan pada harga bahan bakar domestik, terutama di negara yang menggunakan mekanisme harga yang mengikuti perkembangan pasar.

OPEC+ Turut Menjadi Perhatian

Selain konflik geopolitik, investor juga akan mencermati kebijakan OPEC+ dalam menentukan arah pasar minyak.

Keputusan mengenai tingkat produksi akan menjadi penting karena pasar saat ini menghadapi dua dinamika yang berlawanan. Di satu sisi, pemulihan pasokan Timur Tengah dapat meningkatkan ketersediaan minyak. Di sisi lain, gangguan terhadap produk olahan masih menciptakan tekanan di pasar bahan bakar.

Pelaku pasar juga akan memperhatikan data persediaan minyak Amerika Serikat. Perubahan stok dapat menjadi indikator mengenai keseimbangan antara produksi, konsumsi, ekspor, dan aktivitas kilang.

Prospek Harga Minyak Memasuki Oktober

Memasuki Oktober 2026, harga minyak menghadapi sejumlah faktor yang saling berlawanan.

Pemulihan ekspor dari Timur Tengah berpotensi mengurangi tekanan terhadap pasar minyak mentah. Namun, risiko geopolitik masih tinggi, sementara pasar BBM menghadapi keterbatasan pasokan produk olahan.

IEA sebelumnya memperkirakan produksi minyak global 2026 berada di sekitar 100,7 juta barel per hari, turun 5,7 juta barel per hari secara tahunan. Pemulihan penuh pasokan dari produsen Timur Tengah juga diperkirakan baru terjadi pada 2027.

Dengan demikian, perhatian pasar kemungkinan tidak hanya tertuju pada angka harga Brent dan WTI. Ketersediaan diesel, bensin, bahan bakar penerbangan, stok minyak, aktivitas kilang, biaya pengiriman, serta perkembangan Selat Hormuz akan menjadi indikator penting.

Selama ketidakpastian geopolitik belum mereda dan pasar produk olahan masih ketat, harga minyak memiliki ruang untuk tetap berada pada level tinggi.

Bagi konsumen dan pelaku usaha, perkembangan tersebut perlu diperhatikan karena perubahan harga energi dapat merambat ke biaya transportasi, logistik, manufaktur, hingga harga berbagai barang dan jasa.

Sumber : NewsMaker