Nikkei Melonjak 2,02%, SoftBank dan Kioxia Pimpin Reli Saham Jepang

PT Rifan Financindo Berjangka – Pasar saham Jepang mengawali perdagangan pekan ini dengan lonjakan yang mencolok. Nikkei 225 bergerak naik sekitar 2% pada Senin, 7 September 2026, didorong terutama oleh saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, serta perusahaan teknologi yang memperoleh sentimen positif dari prospek pertumbuhan industri chip global. Reuters mencatat Nikkei menguat sekitar 2%, sementara laporan pasar Jepang menunjukkan indeks sempat bergerak di atas level 66.000.

Pada perdagangan sesi pertama, Nikkei 225 bahkan sempat melampaui kenaikan 1.600 poin sebelum sedikit mereda menjelang jeda siang. Saat penutupan sementara sesi pagi, indeks tercatat naik 1.439,17 poin atau 2,21% menjadi 66.460,11. Nilai transaksi di pasar Prime Tokyo juga telah mencapai sekitar ¥3,96 triliun pada sesi tersebut.

Kami melihat pergerakan tersebut bukan sekadar reli indeks secara menyeluruh. Ada konsentrasi minat beli yang sangat kentara pada saham teknologi dan semikonduktor. SoftBank Group, Kioxia Holdings, Advantest, Tokyo Electron, Lasertec, Fujikura, Ibiden, dan sejumlah produsen komponen elektronik menjadi nama-nama yang berada di pusat pusaran transaksi.

Dengan kata lain, pasar sedang memberi premi lebih tinggi kepada perusahaan yang dianggap paling dekat dengan rantai pasok AI.

SoftBank Group Menjadi Salah Satu Pengungkit Terbesar Nikkei

Salah satu nama yang paling mencolok adalah SoftBank Group.

Pada perdagangan 7 September, saham SoftBank Group menguat sekitar 9% dalam perdagangan intraday yang dilaporkan pada siang hari. Pada pukul 14.00 waktu Jepang, saham tersebut tercatat naik sekitar 8,96%, dan kontribusinya terhadap kenaikan Nikkei mencapai 461 poin.

Angka tersebut penting karena Nikkei 225 merupakan indeks berbobot harga. Artinya, pergerakan saham berharga tinggi dapat memberikan pengaruh relatif besar terhadap perubahan indeks.

SoftBank bukan sekadar perusahaan teknologi dalam konteks pasar Jepang. Grup tersebut juga memiliki eksposur yang kuat terhadap ekosistem AI melalui berbagai investasi dan kepemilikan strategisnya.

Ketika sentimen terhadap AI kembali menghangat, saham SoftBank dapat memperoleh dorongan ganda. Pertama dari ekspektasi terhadap bisnis dan investasi terkait AI. Kedua dari persepsi bahwa nilai aset teknologi yang dimilikinya dapat terus meningkat apabila siklus investasi AI berlanjut.

Itulah sebabnya lonjakan SoftBank pada Senin pagi menjadi salah satu komponen penting di balik penguatan Nikkei.

Kioxia Melonjak, Menandai Kuatnya Selera terhadap Saham Memori

Jika SoftBank menjadi salah satu lokomotif indeks, Kioxia Holdings menjadi nama yang tidak kalah mencolok.

Saham Kioxia pada perdagangan siang hari melonjak sekitar 8%. Data pasar menunjukkan harga sahamnya sempat berada di sekitar ¥59.340, atau naik 8,96%, pada perdagangan intraday.

Kioxia merupakan pemain penting dalam industri memori semikonduktor. Perusahaan tersebut menjadi bagian dari rantai pasok yang semakin relevan ketika kebutuhan komputasi AI berkembang pesat.

Peningkatan permintaan terhadap pusat data, akselerator AI, penyimpanan berkapasitas besar, dan infrastruktur komputasi membuat prospek industri memori kembali menjadi sorotan investor.

Karena itu, reli Kioxia pada Senin bukan fenomena yang berdiri sendiri.

Kami melihatnya sebagai bagian dari rotasi minat investor menuju perusahaan yang dapat memperoleh manfaat dari ekspansi infrastruktur AI.

Advantest dan Tokyo Electron Ikut Mengerek Nikkei

Reli Nikkei juga memperoleh dorongan dari perusahaan pembuat peralatan semikonduktor.

Advantest menjadi salah satu penyumbang positif terbesar. Pada pukul 14.00, saham tersebut memberikan kontribusi sekitar 333,08 poin terhadap kenaikan Nikkei. Tokyo Electron menyusul dengan kontribusi sekitar 240,35 poin.

Kedua perusahaan memiliki posisi strategis dalam rantai industri chip.

Semakin agresif produsen chip meningkatkan kapasitas produksi, semakin besar pula kebutuhan terhadap peralatan manufaktur dan pengujian semikonduktor. Siklus tersebut membuat perusahaan seperti Advantest dan Tokyo Electron memperoleh perhatian ketika investor memperkirakan belanja modal industri chip tetap tinggi.

Dengan demikian, penguatan Nikkei pada 7 September memiliki karakter yang cukup spesifik: bukan sekadar pembelian saham Jepang secara umum, melainkan penguatan yang terkonsentrasi pada sektor teknologi dan rantai pasok semikonduktor.

Mengapa Saham AI Jepang Mendadak Diburu?

Ada beberapa katalis yang bertemu pada saat bersamaan.

Pertama, saham semikonduktor Amerika Serikat menguat pada perdagangan sebelumnya. Reli tersebut memberikan sentimen positif kepada saham teknologi Asia pada awal pekan. Reuters melaporkan bahwa saham teknologi Asia menguat setelah data ekonomi Amerika Serikat memberikan gambaran pertumbuhan yang relatif kuat.

Kedua, optimisme terhadap pertumbuhan AI masih menjadi tema investasi dominan.

Ketiga, investor menilai permintaan terhadap perangkat keras AI belum menunjukkan tanda-tanda kehilangan momentum.

Keempat, posisi saham-saham teknologi Jepang yang sangat sensitif terhadap tren semikonduktor membuat setiap perubahan sentimen global dapat diterjemahkan menjadi pergerakan harga yang cukup tajam.

Hal tersebut terlihat jelas pada perdagangan Senin.

Bahkan ketika sebagian besar saham Prime Tokyo justru mengalami tekanan, saham-saham teknologi tertentu mampu mengangkat indeks secara signifikan.

Ada Kejanggalan: Mayoritas Saham Justru Turun

Inilah salah satu detail paling menarik dari perdagangan Nikkei pada 7 September.

Meskipun Nikkei melonjak, jumlah saham yang turun justru lebih banyak daripada saham yang naik.

Pada akhir sesi pagi, tercatat 683 saham menguat, sedangkan 829 saham melemah dan 43 saham tidak berubah. Dengan demikian, lebih dari separuh saham yang diperdagangkan di Prime Market berada di zona merah.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan Nikkei tidak mencerminkan reli pasar yang merata.

Indeks terdorong terutama oleh sejumlah saham dengan bobot besar dan kontribusi indeks yang signifikan.

Ini merupakan perbedaan penting bagi investor.

Kenaikan indeks tidak selalu berarti mayoritas saham sedang menguat.

Dalam kasus seperti ini, investor perlu melihat lebih jauh daripada sekadar angka persentase Nikkei.

Saham Bank Jepang Justru Mengalami Tekanan

Sementara saham teknologi dan semikonduktor berpesta, sejumlah saham perbankan Jepang justru bergerak berlawanan.

Mitsubishi UFJ Financial Group dan sejumlah bank besar Jepang berada di antara saham yang mengalami tekanan. Sony Group dan NEC juga dilaporkan melemah, meskipun indeks utama Jepang bergerak naik tajam.

Perbedaan performa tersebut memperlihatkan adanya rotasi sektoral.

Modal tidak mengalir secara seragam ke seluruh pasar Jepang. Investor tampaknya lebih agresif mengejar sektor yang memiliki hubungan langsung dengan tema AI dan semikonduktor.

Fenomena seperti ini dapat membuat indeks terlihat sangat kuat meskipun breadth pasar sebenarnya tidak terlalu sehat.

 

Sentimen global terhadap AI mengalir ke sektor semikonduktor. Dari sana, investor Jepang memburu perusahaan yang memiliki keterkaitan langsung dengan tema tersebut. Karena beberapa saham tersebut memiliki pengaruh besar terhadap Nikkei, kenaikannya kemudian memperbesar lonjakan indeks.

Kinerja Saham Teknologi Menjadi Sorotan

Selain SoftBank dan Kioxia, sejumlah saham lain ikut menikmati gelombang pembelian.

Advantest, Lasertec, Tokyo Electron, Taiyo Yuden, Murata Manufacturing, Fujikura, Ibiden, dan KOKUSAI ELECTRIC termasuk saham yang dilaporkan menguat pada perdagangan tersebut.

Kenaikan pada kelompok perusahaan tersebut memberi satu pesan yang cukup tegas.

Investor sedang memburu berbagai mata rantai dalam ekosistem semikonduktor, bukan hanya produsen chip.

Mulai dari memori, peralatan produksi, pengujian, konektivitas hingga komponen elektronik, hampir seluruh rantai industri mendapatkan perhatian.

Nikkei Menembus 66.000, Tetapi Volatilitas Tetap Mengintai

Pada sesi pagi, Nikkei mampu bertahan jauh di atas level 66.000.

Namun, penguatan tersebut mulai sedikit menyusut ketika perdagangan memasuki sesi kedua. Pada awal sesi siang, indeks berada di sekitar 66.169,77, masih naik 1.148,83 poin atau 1,77% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Kemunduran dari level tertinggi intraday tidak serta-merta mengubah struktur bullish perdagangan.

Akan tetapi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor mulai mengambil napas setelah reli tajam pada sesi pagi.

Terlebih lagi, pasar Amerika Serikat dijadwalkan libur karena Labor Day pada 7 September. Ketiadaan perdagangan Wall Street membuat sebagian pelaku pasar cenderung mengurangi agresivitas sambil menunggu katalis berikutnya.

Wall Street dan Data Ekonomi AS Menjadi Katalis Berikutnya

Pergerakan saham Jepang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat.

Data ketenagakerjaan AS yang dirilis sebelumnya menunjukkan penciptaan lapangan kerja lebih kuat dari perkiraan, sehingga pasar mulai memperhitungkan kembali kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat. Reuters menyebut laporan pekerjaan yang kuat turut menopang saham teknologi Asia, meskipun pada saat bersamaan meningkatkan perhatian terhadap potensi kenaikan suku bunga.

Ini menciptakan situasi yang agak paradoks.

Pertumbuhan ekonomi yang kuat mendukung prospek laba perusahaan. Namun pertumbuhan yang terlalu kuat dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter.

Bagi saham teknologi dengan valuasi tinggi, perubahan ekspektasi suku bunga dapat menjadi faktor penting.

Harga Minyak Menjadi Risiko yang Tidak Boleh Diabaikan

Ada satu variabel lain yang berpotensi mengganggu reli pasar Asia: harga minyak.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mendorong harga minyak mentah naik. Reuters melaporkan Brent berada di sekitar US$97 per barel, sedangkan minyak mentah AS berada di sekitar US$92 per barel pada Senin.

Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi.

Bagi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi, lonjakan harga minyak dapat memiliki implikasi terhadap biaya produksi, konsumsi rumah tangga, neraca perdagangan, serta kebijakan Bank of Japan.

Dengan demikian, reli saham Jepang saat ini berjalan di antara dua arus yang berlawanan.

Di satu sisi ada optimisme AI.

Di sisi lain terdapat risiko inflasi dan energi.

Yen Jepang Masih Menjadi Faktor Penting

Pergerakan yen juga patut diperhatikan.

Pada perdagangan yang sama, dolar AS berada di sekitar ¥156,12. Reuters mencatat yen sedikit menguat setelah sebelumnya mengalami pelemahan.

Bagi perusahaan Jepang yang memiliki pendapatan global, nilai tukar merupakan salah satu variabel penting.

Yen yang lebih lemah umumnya dapat meningkatkan nilai pendapatan luar negeri ketika dikonversikan ke yen. Namun pelemahan yen juga meningkatkan biaya impor, terutama energi.

Karena itu, investor perlu membaca pergerakan Nikkei bersama dengan yen, imbal hasil obligasi, harga minyak, dan ekspektasi kebijakan Bank of Japan.

Apa Arti Lonjakan Nikkei bagi Investor?

Kenaikan Nikkei sebesar sekitar 2% pada 7 September memberikan beberapa petunjuk.

Pertama, tema AI belum kehilangan daya tarik.

Kedua, investor masih bersedia membayar mahal untuk perusahaan yang dipersepsikan sebagai penerima manfaat utama dari ekspansi infrastruktur AI.

Ketiga, reli indeks sangat dipengaruhi oleh sejumlah saham berkapitalisasi dan berbobot indeks besar.

Keempat, kenaikan Nikkei belum dapat disebut sebagai reli pasar yang merata karena jumlah saham yang turun pada sesi pagi masih melampaui saham yang menguat.

Bagi kami, poin keempat justru sangat penting.

Indeks yang naik tajam dapat memberikan gambaran optimistis, tetapi breadth pasar memberikan informasi yang berbeda mengenai seberapa luas keyakinan investor.

Prospek Nikkei Setelah Reli 7 September

Setelah lonjakan tajam, pasar kemungkinan menghadapi ujian berikutnya.

Investor akan mencermati apakah saham AI dan semikonduktor mampu mempertahankan momentum atau justru memasuki fase profit taking. Pergerakan SoftBank, Kioxia, Advantest, dan Tokyo Electron akan menjadi penting karena saham-saham tersebut memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan indeks.

Pada saat yang sama, perhatian akan beralih kepada inflasi Amerika Serikat dan arah kebijakan Federal Reserve. Reuters menyebut data CPI AS yang dijadwalkan terbit pada 11 September menjadi salah satu katalis penting bagi pasar global.

Dari Jepang sendiri, kebijakan Bank of Japan dan pergerakan yen tetap menjadi variabel yang dapat mengubah persepsi investor.

Dengan kata lain, reli hari ini belum tentu menjadi garis lurus untuk perdagangan berikutnya.

Kesimpulan

Nikkei 225 melonjak sekitar 2% pada perdagangan 7 September 2026, dengan saham teknologi dan semikonduktor menjadi penggerak utama. Pada sesi pagi, indeks mencapai 66.460,11 atau naik 2,21%, setelah sempat mencatat kenaikan lebih dari 1.600 poin.

SoftBank Group dan Kioxia Holdings menjadi dua nama yang paling menyita perhatian. SoftBank memberikan kontribusi sekitar 461 poin terhadap kenaikan Nikkei pada pukul 14.00, sedangkan Kioxia menguat hampir 9% dalam perdagangan intraday. Advantest dan Tokyo Electron juga menjadi penyumbang besar terhadap reli indeks.

Namun, kami tidak melihat penguatan tersebut sebagai reli yang sepenuhnya merata. Jumlah saham yang melemah masih lebih besar daripada saham yang menguat pada sesi pagi. Hal ini menandakan bahwa lonjakan Nikkei sangat ditopang oleh saham-saham tertentu, khususnya yang berkaitan dengan AI dan semikonduktor.

Untuk perdagangan selanjutnya, fokus pasar akan tertuju pada keberlanjutan momentum saham teknologi, pergerakan yen, harga minyak, ekspektasi suku bunga, serta data inflasi Amerika Serikat.

Jika tema AI tetap dominan dan tekanan makro tidak memburuk, saham-saham semikonduktor Jepang masih memiliki ruang untuk menjadi pusat perhatian. Tetapi setelah kenaikan setajam ini, volatilitas juga layak diperhitungkan.

Nikkei memang sedang berlari kencang. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah pasar Jepang sedang bullish, melainkan seberapa jauh reli yang digerakkan AI tersebut mampu bertahan ketika katalis berikutnya datang.

PT Rifan Financindo Berjangka –  Glh

Sumber : NewsMaker