
PT Rifan Financindo Berjangka – Harga minyak dunia kembali melesat setelah konflik Amerika Serikat dan Iran memasuki fase baru. Selat Hormuz menjadi pusat perhatian pasar karena potensi gangguan pelayaran dapat mengancam arus minyak mentah dan LNG global. Harga minyak mentah dunia kembali bergerak agresif pada awal September 2026. Eskalasi militer terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga minyak internasional, ditutup naik 2,71% menjadi US$90,49 per barel pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,83% menjadi US$85,76 per barel. Brent bahkan sempat menyentuh US$91,52 per barel, level tertinggi sejak 25 Agustus. Kenaikan tersebut bukan sekadar pergerakan teknikal. Investor kembali mencermati risiko yang jauh lebih besar: apakah konflik AS-Iran akan mengganggu lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz? Jika ketegangan berlangsung lebih lama, dampaknya tidak hanya dirasakan pasar minyak. Harga bahan bakar, biaya pengiriman, inflasi, pasar LNG, hingga prospek pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia dapat ikut terdampak.
Harga Minyak Dunia Tembus US$90 per Barel
Kenaikan harga minyak pada awal September menjadi salah satu respons paling jelas pasar terhadap meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Pada perdagangan Senin, Brent naik US$2,39 atau 2,71% menjadi US$90,49 per barel. WTI naik US$2,36 atau 2,83% menjadi US$85,76 per barel. Brent sempat bergerak hingga US$91,52 sebelum akhirnya ditutup sedikit di bawah level tersebut.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai menaikkan valuasi risiko terhadap pasokan energi. Sebelumnya, pasar sempat memperoleh harapan bahwa kondisi di Timur Tengah dapat lebih stabil sehingga arus minyak melalui kawasan Teluk berangsur pulih. Namun, perkembangan militer terbaru kembali mengubah persepsi tersebut. Serangan AS terhadap dua peluncur roket Iran di Pulau Larak menjadi pemicu utama kekhawatiran baru. Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap pangkalan AS di kawasan regional. Pertukaran serangan tersebut menjadi perkembangan penting karena terjadi setelah periode relatif tenang antara kedua pihak.
Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting bagi Harga Minyak?
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Pada titik tersempitnya, Selat Hormuz hanya memiliki lebar sekitar 29 mil laut atau 54 kilometer, dengan jalur navigasi yang jauh lebih sempit untuk kapal yang masuk dan keluar.
Yang membuat Hormuz sangat penting bukan hanya lokasinya, melainkan besarnya volume energi yang melewati jalur tersebut. Menurut International Energy Agency (IEA), rata-rata sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak per hari dikirim melalui Selat Hormuz pada 2025. Angka tersebut setara sekitar seperempat perdagangan minyak melalui laut dunia. Sekitar 80% minyak yang melewati selat tersebut ditujukan ke pasar Asia.
Bukan Sekadar Minyak, LNG Juga Terancam
Selat Hormuz memiliki peran besar dalam perdagangan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG). IEA memperkirakan sekitar 19% perdagangan LNG dunia melewati Selat Hormuz. Sebagian besar berasal dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Sekitar 93% ekspor LNG Qatar dan 96% ekspor LNG UEA melewati jalur tersebut.
Artinya, eskalasi berkepanjangan tidak hanya berpotensi mengerek harga minyak. Pasar gas juga dapat menghadapi tekanan apabila pengiriman LNG terganggu. Konsumen di Asia yang bergantung pada impor LNG harus bersaing mendapatkan kargo alternatif apabila pasokan dari kawasan Teluk berkurang.
Dampaknya dapat merembet ke:
- harga LNG spot;
- harga listrik;
- biaya industri;
- biaya produksi petrokimia;
- harga pupuk;
- biaya transportasi;
- dan inflasi energi.
Karena itu, perkembangan di Hormuz harus dibaca sebagai risiko energi lintas komoditas, bukan hanya persoalan harga minyak mentah.
Mengapa Asia Menjadi Wilayah yang Paling Sensitif?
Sebagian besar minyak yang melewati Selat Hormuz dikirim ke Asia. IEA menyebut sekitar 80% minyak yang melintasi selat tersebut menuju pasar Asia. China, India, Jepang, dan Korea Selatan termasuk konsumen utama aliran minyak dari kawasan tersebut. EIA sebelumnya juga memperkirakan sekitar 84% minyak mentah dan kondensat yang melewati Hormuz pada 2024 ditujukan ke pasar Asia. China, India, Jepang, dan Korea Selatan secara bersama-sama menyerap bagian yang sangat besar dari arus tersebut.
Kondisi ini membuat setiap gangguan Hormuz memiliki konsekuensi besar bagi ekonomi Asia. Jika pengiriman tertunda, importir harus mencari sumber alternatif. Proses tersebut biasanya membutuhkan biaya lebih tinggi dan waktu lebih panjang. Pada akhirnya, harga minyak fisik dan biaya pengangkutan dapat meningkat secara bersamaan.
Konflik AS-Iran Menghidupkan Kembali Premi Risiko
Pasar minyak tidak hanya menghitung jumlah barel yang hilang. Trader juga menghitung probabilitas terjadinya gangguan.
Ketika ketegangan meningkat, perusahaan pelayaran dapat menghindari wilayah berisiko tinggi. Perusahaan asuransi dapat menaikkan premi. Pemilik kapal dapat meminta kompensasi lebih tinggi. Pembeli minyak juga dapat meningkatkan persediaan sebagai perlindungan terhadap kemungkinan gangguan. Semua faktor tersebut dapat meningkatkan harga minyak bahkan ketika produksi dunia secara fisik belum berkurang dalam jumlah yang sama.
Inilah yang disebut sebagai geopolitical risk premium. Bloomberg melaporkan bahwa harga minyak melanjutkan penguatan setelah kenaikan terbesar dalam tiga pekan pada Senin, sementara kekhawatiran mengenai gangguan berkepanjangan terhadap arus energi melalui Hormuz kembali meningkat.
Pasar Minyak Menghadapi Dua Risiko Sekaligus
Kondisi saat ini menjadi semakin kompleks karena pasar harus menyeimbangkan dua risiko yang berlawanan. Di satu sisi, gangguan Hormuz dapat mengurangi pasokan minyak ke pasar global dan mendorong harga lebih tinggi. Di sisi lain, harga minyak yang terlalu tinggi dapat mengurangi konsumsi energi dan menekan pertumbuhan ekonomi.
IEA dalam laporan Agustus 2026 mencatat bahwa pasar minyak global sebelumnya sudah mengalami perubahan besar akibat gangguan pasokan di kawasan Teluk. Produksi minyak kawasan Teluk pada Juli meningkat dibandingkan Juni, tetapi masih berada jauh di bawah tingkat sebelum perang. IEA juga memperkirakan pasokan minyak global 2026 turun 4,3 juta barel per hari menjadi sekitar 102 juta barel per hari. Artinya, pasar memasuki September dengan kondisi fundamental yang sudah sensitif terhadap gangguan tambahan.
Harga Minyak Bisa Kembali Menguji Level Lebih Tinggi
Kembalinya Brent ke atas US$90 per barel membuat level harga berikutnya menjadi perhatian investor. Jika ketegangan hanya berlangsung singkat dan jalur pelayaran segera kembali normal, premi risiko dapat kembali menyusut. Dalam skenario tersebut, harga minyak berpotensi mengalami koreksi karena pasar kembali memusatkan perhatian pada produksi dan permintaan.
Namun, apabila gangguan pelayaran berlangsung lebih lama, pasar akan menghadapi persoalan yang berbeda. Semakin lama kapal tanker tidak dapat bergerak normal, semakin besar kemungkinan persediaan di negara konsumen menurun. Ketika stok mulai menipis, pembeli dapat bersedia membayar harga lebih tinggi untuk mendapatkan kargo yang tersedia.
Mengapa Harga Minyak Bisa Naik Lebih Cepat daripada Produksi Turun?
Pasar minyak bekerja berdasarkan ekspektasi. Jika trader meyakini pasokan akan terganggu pada masa depan, mereka tidak harus menunggu hingga kekurangan minyak benar-benar terjadi untuk menaikkan harga. Contohnya sederhana. Jika pasar biasanya memperoleh 20 juta barel minyak per hari melalui sebuah jalur, kemudian terjadi ancaman bahwa jalur tersebut mungkin terganggu, pembeli akan mulai mencari pasokan alternatif. Ketika banyak pembeli melakukan hal yang sama, harga kargo alternatif meningkat. Trader kemudian memasukkan biaya tersebut ke dalam kontrak berjangka. Akibatnya, harga minyak dapat melonjak sebelum terjadi kekurangan fisik dalam skala besar.
Risiko Inflasi Global Kembali Meningkat
Harga minyak merupakan salah satu variabel penting dalam inflasi global. Ketika minyak naik, dampaknya tidak berhenti pada harga bensin. Minyak digunakan dalam transportasi, petrokimia, plastik, bahan baku industri, aspal, dan berbagai rantai produksi. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan.
Apabila perusahaan meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen, inflasi dapat meningkat. Bank sentral kemudian menghadapi dilema. Jika inflasi energi meningkat terlalu tinggi, pelonggaran kebijakan moneter dapat menjadi lebih sulit. Sebaliknya, jika bank sentral mempertahankan kebijakan ketat terlalu lama, pertumbuhan ekonomi dapat tertekan. Dengan demikian, konflik di Selat Hormuz dapat menciptakan efek ekonomi yang jauh lebih luas daripada sekadar perubahan harga komoditas.
Jalur Alternatif Tidak Sepenuhnya Menyelesaikan Masalah
Keberadaan jaringan pipa alternatif sering dianggap sebagai penyangga ketika Hormuz mengalami gangguan. Namun, kapasitasnya terbatas.
IEA memperkirakan terdapat sekitar 3,5-5,5 juta barel per hari kapasitas yang berpotensi digunakan untuk mengalihkan ekspor minyak melalui jalur alternatif Saudi Arabia dan UEA. Angka tersebut hanya sebagian dari volume normal yang melewati Hormuz. Karena itu, jalur alternatif lebih tepat dipandang sebagai peredam guncangan, bukan pengganti penuh Selat Hormuz. Saudi Aramco sendiri sebelumnya meningkatkan penawaran minyak untuk pemuatan September melalui lokasi di luar Hormuz, termasuk melalui transfer kapal-ke-kapal di lepas pantai Fujairah dan Sohar. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pelaku industri telah mempersiapkan alternatif logistik menghadapi risiko jalur utama.
Pasar Minyak Memasuki September dengan Volatilitas Tinggi
Pergerakan harga pada awal September memperlihatkan bahwa pasar minyak belum kembali ke kondisi normal. IEA dalam laporan Agustus mencatat bahwa harga minyak sempat bergerak dalam rentang yang sangat lebar selama periode konflik, dengan North Sea Dated mencapai sekitar US$105 per barel pada 23 Juli sebelum kembali bergerak di sekitar US$92 ketika ketidakpastian meningkat. Rentang pergerakan yang besar tersebut menunjukkan bahwa pasar sangat sensitif terhadap berita diplomatik dan militer.
Satu kabar mengenai gencatan senjata dapat menekan harga dengan cepat. Sebaliknya, kabar mengenai serangan baru dapat langsung memicu pembelian minyak. Kondisi seperti ini membuat volatilitas menjadi karakter utama pasar minyak sepanjang periode ketegangan.
Apa yang Harus Diperhatikan Investor?
Investor komoditas perlu membedakan antara lonjakan harga akibat berita dan perubahan fundamental pasokan. Jika harga naik hanya karena berita serangan tetapi arus tanker segera kembali normal, kenaikan tersebut berpotensi kehilangan momentum. Namun, apabila serangan menyebabkan gangguan nyata terhadap pelayaran, produksi, ekspor, atau infrastruktur energi, kenaikan harga memiliki dasar fundamental yang lebih kuat. Karena itu, level harga saja tidak cukup untuk membaca kondisi pasar. Data pengiriman, ekspor, stok, produksi, biaya pengiriman, dan premi asuransi kapal menjadi semakin penting.
