USD/JPY Stabil di 155,37, Pasar Menanti Keputusan The Fed dan Arah Yen Jepang

PT Rifan Financindo Berjangka – USD/JPY menjadi salah satu pasangan mata uang yang paling diperhatikan pasar pada pertengahan September 2026. Pergerakannya berada di bawah pengaruh dua agenda besar, yakni keputusan Federal Reserve atau The Fed mengenai suku bunga Amerika Serikat dan pertemuan kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ). Level USD/JPY 155,37 menjadi salah satu angka yang disorot dalam perdagangan, tetapi kondisi pasar terbaru menunjukkan bahwa pergerakan yen sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga kedua bank sentral. Pada 15 September, yen bahkan sempat menguat hingga sekitar 152,89 per dolar AS, level terkuatnya dalam tujuh bulan menurut laporan Reuters.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pasar valuta asing tidak hanya menunggu keputusan The Fed. Investor juga memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Jepang, risiko intervensi pemerintah Jepang, imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta perkembangan harga energi global. Pada 16 September 2026, perhatian pasar terutama tertuju pada keputusan The Fed setelah rapat FOMC yang berlangsung pada 15-16 September. Kalender resmi Federal Reserve mencatat keputusan dan konferensi pers dijadwalkan pada 16 September.

USD/JPY 155,37 dan Fokus Pasar terhadap The Fed

Pasangan USD/JPY menggambarkan berapa banyak yen Jepang yang diperlukan untuk membeli satu dolar Amerika Serikat. Jika USD/JPY naik, artinya dolar menguat terhadap yen atau yen melemah terhadap dolar. Sebaliknya, ketika USD/JPY turun, berarti yen menguat terhadap dolar. Karena itu, level 155,37 tidak dapat dibaca hanya sebagai angka harga. Pergerakannya mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap perbedaan kebijakan moneter Amerika Serikat dan Jepang.

Pada September 2026, dinamika tersebut semakin kompleks karena pasar menghadapi dua bank sentral yang sama-sama berpotensi memperketat kebijakan. Reuters melaporkan bahwa pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September, sementara ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ juga meningkat.

Mengapa Suku Bunga The Fed Sangat Penting bagi USD/JPY?

Perbedaan tingkat suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang merupakan salah satu faktor fundamental utama bagi pasangan USD/JPY. Secara sederhana, ketika suku bunga Amerika Serikat relatif lebih tinggi dibandingkan Jepang, aset berbasis dolar dapat menawarkan imbal hasil yang lebih menarik bagi investor global. Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar.

Sebaliknya, jika The Fed memperketat kebijakan sementara BoJ juga menaikkan suku bunga dengan lebih cepat, selisih imbal hasil kedua negara dapat menyempit. Penyempitan yield differential tersebut berpotensi mengurangi salah satu sumber tekanan terhadap yen. Inilah alasan pasar tidak hanya memperhatikan apakah The Fed menaikkan suku bunga, tetapi juga apa yang disampaikan Ketua The Fed mengenai arah kebijakan selanjutnya.

The Fed Menghadapi Tekanan Inflasi dari Harga Energi

Salah satu tantangan utama kebijakan moneter Amerika Serikat pada September 2026 adalah meningkatnya tekanan inflasi. Harga minyak global kembali berada di atas US$100 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah. Reuters melaporkan harga minyak Brent telah melewati US$108 per barel pada 15 September, sementara gangguan terhadap infrastruktur energi Saudi menambah kekhawatiran mengenai pasokan. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, sekaligus memberikan tekanan terhadap inflasi.

Situasi ini membuat The Fed menghadapi dilema: kebijakan moneter perlu memperhatikan inflasi, tetapi pengetatan yang terlalu agresif juga dapat meningkatkan biaya pembiayaan ekonomi. Morgan Stanley bahkan mengubah pandangannya menjadi lebih hawkish dan memperkirakan dua kenaikan suku bunga The Fed pada 2026, dengan kenaikan pertama diproyeksikan terjadi pada September.

Yen Menguat Tajam Menjelang Pertemuan BoJ

Pergerakan yen dalam beberapa hari terakhir menunjukkan besarnya perhatian pasar terhadap kebijakan Jepang. Reuters melaporkan yen telah mengalami penguatan sekitar 5% dalam periode tertentu dan mencapai sekitar 152,89 per dolar AS, level tertinggi dalam tujuh bulan. Penguatan tersebut didorong oleh ekspektasi kebijakan BoJ yang lebih hawkish serta pembicaraan mengenai intervensi untuk mendukung yen.

Kondisi tersebut penting untuk membaca level USD/JPY 155,37. Jika yen terus menguat, USD/JPY dapat bergerak lebih rendah. Sebaliknya, jika ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ berkurang atau The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish, dolar dapat kembali mendapatkan dukungan.

Intervensi Jepang Menjadi Faktor Penting USD/JPY

Selain suku bunga, pasar juga memperhatikan potensi intervensi pemerintah Jepang. Jepang sebelumnya telah memberikan sinyal bahwa pergerakan valuta asing yang berlebihan dapat memicu respons otoritas. Reuters melaporkan bahwa ekspektasi intervensi dan dukungan dari Amerika Serikat terhadap langkah Jepang ikut mengubah persepsi pasar mengenai risiko mempertahankan posisi bearish terhadap yen.

Bagi trader dan investor, faktor tersebut menciptakan batas psikologis tambahan. Pergerakan USD/JPY yang terlalu cepat ke arah pelemahan yen dapat meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan tindakan otoritas Jepang.

Inflasi AS Menjadi Penentu Arah Dolar

Inflasi merupakan salah satu variabel terpenting dalam menentukan kebijakan Federal Reserve. Jika inflasi bertahan tinggi, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan menjadi lebih terbatas. Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mulai mereda, pasar dapat kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Pada September 2026, masalahnya menjadi lebih rumit karena harga minyak melonjak akibat gangguan pasokan dan konflik geopolitik. Kenaikan minyak dapat memberikan tekanan inflasi yang tidak sepenuhnya berasal dari permintaan domestik Amerika Serikat. Namun, bagi bank sentral, dampaknya terhadap inflasi tetap perlu diperhitungkan.

Treasury Yield AS Menjadi Indikator Penting

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga perlu diperhatikan ketika menganalisis USD/JPY. Reuters melaporkan bahwa Treasury yield AS telah meningkat tajam, dengan yield Treasury 10 tahun mencapai sekitar 5% dalam perdagangan sebelumnya. Kenaikan yield meningkatkan daya tarik relatif aset berdenominasi dolar, meskipun pengaruhnya terhadap USD/JPY tetap bergantung pada perkembangan yield Jepang.

Jika yield AS meningkat lebih cepat daripada yield Jepang, perbedaan imbal hasil dapat kembali melebar. Sebaliknya, jika yield Jepang naik akibat ekspektasi pengetatan BoJ, selisih tersebut dapat menyempit.

USD/JPY dan Strategi Carry Trade

Perbedaan suku bunga Amerika Serikat dan Jepang selama bertahun-tahun menjadi salah satu dasar aktivitas carry trade. Dalam strategi ini, pelaku pasar dapat memanfaatkan perbedaan biaya pendanaan dan imbal hasil antarnegara. Jepang secara historis memiliki tingkat suku bunga yang relatif rendah dibandingkan Amerika Serikat. Ketika investor meminjam atau mendapatkan pendanaan dalam yen dan menempatkan dana pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi, perubahan nilai tukar menjadi faktor risiko utama.

Jika yen menguat cepat, posisi carry trade dapat mengalami tekanan karena nilai kewajiban dalam yen berubah. Inilah salah satu alasan penguatan yen yang cepat dapat memicu perubahan posisi di pasar global.

Level 155,37 dalam Konteks Pergerakan USD/JPY

Level 155,37 perlu dipahami sebagai salah satu titik harga yang disebut dalam pemberitaan pasar, bukan sebagai jaminan bahwa USD/JPY akan bertahan di level tersebut. Data teknikal yang tersedia menunjukkan USD/JPY telah mengalami perubahan besar sepanjang September. Data teknikal harian per 14 September mencatat penutupan USD/JPY sekitar 154,34, dengan rata-rata bergerak lima hari sekitar 153,90 dan rata-rata 20 hari sekitar 156,67.

Perbedaan antara harga dan rata-rata bergerak tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar perlu memperhatikan perubahan momentum, bukan hanya satu angka. Karena pasar sedang menunggu keputusan bank sentral, level teknikal juga dapat ditembus dengan cepat setelah pengumuman penting.

Apa yang Terjadi Jika The Fed Bersikap Lebih Hawkish?

Jika The Fed menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal bahwa pengetatan masih mungkin berlanjut, pasar dapat menilai kebijakan Amerika Serikat lebih ketat daripada perkiraan sebelumnya. Secara mekanisme pasar, kondisi tersebut dapat:

  • meningkatkan ekspektasi yield AS;
  • memperkuat permintaan terhadap dolar;
  • memperlebar perbedaan imbal hasil AS-Jepang jika BoJ tidak merespons;
  • dan memberikan tekanan terhadap yen.

Namun, besarnya reaksi USD/JPY tetap bergantung pada seberapa besar keputusan tersebut sudah tercermin dalam harga sebelum pengumuman.

Pasar Harus Membandingkan The Fed dan BoJ

Salah satu kesalahan dalam membaca USD/JPY adalah hanya melihat satu bank sentral. Pasar sebenarnya membandingkan kebijakan moneter Amerika Serikat dan Jepang secara bersamaan. Pada September 2026, perbandingan tersebut menjadi semakin penting karena kedua bank sentral memiliki agenda kebijakan yang dapat mengubah ekspektasi pasar. The Fed dijadwalkan mengambil keputusan pada 16 September, sedangkan BoJ akan menggelar pertemuan pada 17-18 September. Artinya, volatilitas USD/JPY dapat berlangsung lebih dari satu sesi perdagangan.

Risiko Intervensi Tetap Membatasi Pelemahan Yen

Selain kebijakan suku bunga, pelaku pasar juga perlu memperhatikan respons otoritas Jepang terhadap pergerakan yen. Penguatan atau pelemahan mata uang yang terlalu cepat dapat meningkatkan risiko intervensi. Reuters melaporkan bahwa pembicaraan mengenai intervensi Jepang dan dukungan Amerika Serikat telah menjadi salah satu faktor yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ. Dengan demikian, pelaku pasar USD/JPY menghadapi risiko bahwa pergerakan harga tidak hanya ditentukan oleh fundamental ekonomi, tetapi juga oleh tindakan kebijakan.

Mengapa Yen Bisa Menguat Meski Dolar Mendapat Dukungan?

Fenomena tersebut dapat terjadi ketika pasar lebih fokus pada perubahan ekspektasi kebijakan Jepang. Misalnya, jika investor sebelumnya memperkirakan BoJ akan mempertahankan suku bunga tetapi kemudian mulai memperkirakan kenaikan, maka posisi terhadap yen dapat berubah dengan cepat.

Pada saat yang sama, jika pelaku pasar mengurangi posisi short yen, permintaan terhadap yen dapat meningkat. Reuters mencatat bahwa penguatan yen pada September berkaitan dengan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ dan spekulasi mengenai intervensi.

Data Ekonomi Jepang yang Perlu Diperhatikan

Selain keputusan BoJ, pasar akan memperhatikan sejumlah indikator ekonomi Jepang. Beberapa indikator penting meliputi:

  • inflasi;
  • upah;
  • konsumsi rumah tangga;
  • produksi industri;
  • aktivitas manufaktur;
  • neraca perdagangan;
  • pertumbuhan ekonomi;
  • serta perkembangan harga jasa.

Jika inflasi dan upah tetap kuat, tekanan terhadap BoJ untuk menormalisasi kebijakan dapat meningkat. Sebaliknya, jika pertumbuhan ekonomi melemah secara signifikan, BoJ perlu memperhitungkan dampak pengetatan terhadap aktivitas domestik.

Risiko Geopolitik Menambah Volatilitas USD/JPY

Pergerakan USD/JPY juga dipengaruhi oleh sentimen risiko global. Ketegangan Timur Tengah dan lonjakan harga minyak membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko. Reuters melaporkan kenaikan minyak dan yield obligasi telah menekan pasar saham global pada pertengahan September.

Yen secara historis sering diperhatikan sebagai mata uang pendanaan dan aset yang dapat memperoleh permintaan ketika kondisi pasar berubah tajam. Namun, karakter tersebut tidak selalu menghasilkan pola yang sama dalam setiap episode risiko. Karena itu, geopolitik perlu dipertimbangkan bersama faktor suku bunga dan arus modal.

USD/JPY Tidak Hanya Ditentukan oleh Angka 155,37

Level 155,37 dapat menjadi angka penting dalam pemberitaan, tetapi dinamika USD/JPY jauh lebih kompleks. Pasar valuta asing bergerak berdasarkan perubahan ekspektasi.

Jika ekspektasi suku bunga berubah, harga dapat bergerak bahkan sebelum keputusan resmi diumumkan. Ketika keputusan akhirnya keluar, reaksi harga juga dapat berbeda dari arah yang tampak intuitif karena pasar telah melakukan pricing sebelumnya. Karena itu, kita perlu melihat angka USD/JPY bersama konteks suku bunga, yield, inflasi, harga minyak, dan kebijakan Jepang.

 

Sumber : NewsMaker