Harga Minyak Stabil Saat Pasar Menimbang Proposal Iran dan Arus Pengiriman Tetap Lemah

PT Rifan Financindo Berjangka – Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan terbaru ketika pelaku pasar menilai proposal baru dari Iran terkait upaya meredakan konflik di kawasan Timur Tengah, sementara arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas. Ketidakpastian geopolitik ini terus menjadi faktor utama yang menopang harga minyak di level tinggi. Minyak mentah Brent tercatat berada di kisaran US$108 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati US$97 per barel. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih berhati-hati terhadap kemungkinan gangguan pasokan yang berkepanjangan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Proposal Iran Jadi Sorotan Utama Pasar

Iran dilaporkan menawarkan penghentian serangan di Selat Hormuz dengan syarat perang dihentikan sepenuhnya dan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dicabut. Namun, proposal tersebut disambut skeptis oleh Presiden AS Donald Trump dan tim keamanan nasionalnya.

Washington menilai proposal tersebut belum menyentuh isu utama, yakni program nuklir Iran, sehingga peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat masih terlihat kecil. Situasi ini membuat pasar energi tetap waspada terhadap risiko gangguan suplai global.

Selat Hormuz Tetap Jadi Kunci Pergerakan Harga

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan atau pembatasan aktivitas di jalur ini langsung memicu lonjakan harga energi global.

Meskipun Iran sempat mengisyaratkan pembukaan kembali jalur pelayaran, kenyataannya arus kapal tanker masih sangat terbatas. Sebelum konflik memanas, sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi selat tersebut setiap hari. Kini, sebagian besar pengiriman masih tertahan dan sejumlah kapal terpaksa berbalik arah.

Kondisi ini membuat pasokan dari Timur Tengah sulit menjangkau pembeli global, sehingga harga minyak tetap tertopang meskipun tidak melonjak tajam.

Goldman Sachs Prediksi Pemulihan Butuh Waktu

Lembaga keuangan global Goldman Sachs memperkirakan produksi minyak Teluk akan pulih dalam beberapa bulan setelah Selat Hormuz benar-benar kembali normal. Namun proses tersebut tidak akan instan.

Sekitar 14,5 juta barel per hari atau 57% dari pasokan pra-konflik masih offline pada April. Hambatan logistik, keterbatasan kapal tanker, hingga penurunan tekanan sumur minyak dapat memperlambat pemulihan produksi.

Jika konflik terus berlanjut tanpa solusi diplomatik yang jelas, harga minyak berpotensi bertahan tinggi lebih lama dan meningkatkan tekanan inflasi global.

Investor Fokus pada Risiko Pasokan

Pelaku pasar saat ini lebih memperhatikan perkembangan geopolitik dibanding faktor fundamental tradisional seperti permintaan musiman atau data persediaan minyak.

Analis menilai selama belum ada kepastian mengenai pembukaan penuh Selat Hormuz dan penyelesaian konflik AS-Iran, volatilitas harga minyak akan tetap tinggi. Bahkan jika kesepakatan damai tercapai, gangguan pasokan fisik diperkirakan masih akan membayangi pasar selama beberapa bulan ke depan.

 

Sumber : NewsMaker