
PT Rifan Financindo Berjangka – Belakangan ini, pasangan mata uang British Pound (GBP) terhadap US Dollar (USD) menunjukkan penguatan, dengan kurs GBP/USD stabil di sekitar kisaran 1.3190–1.3210.
Penguatan ini dipicu oleh melemahnya USD secara luas — Menurut data, indeks dolar (DXY) turun, sebagai respons pasar terhadap membaiknya kemungkinan pemangkasan suku bunga Amerika Serikat oleh Federal Reserve (The Fed).
Sementara itu, GBP mendapat dorongan dari kondisi domestik di Inggris yang relatif stabil, serta ekspektasi kebijakan yang mendukung dari Bank of England (BoE).
Faktor-Faktor Fundamental yang Mendukung Sterling
🔹 Diferensial Suku Bunga: BoE vs Fed
Keputusan suku bunga oleh BoE dan Fed secara langsung mempengaruhi daya tarik relatif GBP versus USD. Saat suku bunga di Inggris lebih kompetitif dibandingkan di AS, investor global cenderung beralih ke GBP, meningkatkan permintaan dan memperkuat nilai Pound.
Sebaliknya, jika Fed menahan suku bunga atau bahkan menaikkannya, maka USD kembali menarik minat — menekan GBP/USD.
🔹 Data Ekonomi dan Ekonomi Makro
Data ekonomi dari Inggris maupun AS — seperti inflasi, pertumbuhan GDP, ketenagakerjaan, dan indikator produksi — juga mempengaruhi pergerakan GBP/USD. Hasil ekonomi Inggris yang positif atau stabil cenderung memperkuat Sterling.
Sebaliknya, apabila ekonomi AS melambat — misalnya inflasi turun atau peluang pemangkasan suku bunga meningkat — maka USD melemah, memberi ruang bagi GBP untuk menguat.
🔹 Sentimen Pasar & Pelarian ke Aset Lain
Trader dan investor sering bereaksi terhadap ekspektasi suku bunga, kebijakan fiskal, dan data makro. Jika pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga dari Fed, maka banyak yang meninggalkan USD dan mencari aset berisiko atau yield lebih tinggi seperti GBP.
Namun, dalam situasi global penuh ketidakpastian (krisis geopolitik, krisis keuangan, dsb.), investor cenderung mengamankan modal ke USD sebagai safe-haven — melemahkan pasangan GBP/USD.
🔹 Inflasi & Kebijakan Moneter Inggris
Tingkat inflasi di Inggris dan ekspektasi kebijakan moneter BoE memainkan peran penting. Jika inflasi turun dan BoE cenderung menurunkan suku bunga, ini bisa melemahkan GBP dalam jangka pendek.
Sebaliknya, jika BoE mempertahankan atau meningkatkan suku bunga lebih lama, GBP bisa tetap kuat, terutama dibandingkan USD yang suku bunganya diproyeksikan menurun.
🔹 Neraca Perdagangan dan Faktor Eksternal
Faktor eksternal seperti harga energi (minyak), defisit/perdagangan eksternal, dan kestabilan politik juga bisa mempengaruhi kekuatan GBP. Sebagai negara yang mengimpor minyak, lonjakan harga energi bisa memberikan tekanan pada perekonomian Inggris — sehingga bisa melemahkan Pound.
Selain itu, arus investasi asing dan keseimbangan transaksi berjalan (current account) ikut menentukan permintaan terhadap mata uang.
Kondisi Terkini: Kenapa GBP/USD Kini Menguat
- Penurunan DXY (indeks dolar) akibat meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed menjadikan USD kurang menarik.
- GBP mendapat sentimen positif jelang dan setelah pengumuman kebijakan fiskal/anggaran Inggris, serta keyakinan bahwa ekonomi Inggris tetap relatif stabil.
- Perbedaan kebijakan moneter antara Inggris dan AS mendorong pergerakan dana ke Pound — ketika investor mencari yield dan stabilitas.
Karena itu, GBP/USD kini berada di posisi menguat — sebuah kondisi yang bisa berlanjut, sepanjang ketidakpastian di AS terus mendorong pelonggaran moneternya.
Risiko dan Faktor yang Bisa Membalikkan Arah
Meskipun saat ini GBP menguat, ada sejumlah risiko yang dapat membalikkan tren tersebut:
- Jika inflasi di Inggris terus melambat dan BoE memangkas suku bunga, maka daya tarik Pound bisa tergerus.
- Jika data ekonomi AS membaik — misalnya inflasi naik atau lapangan kerja kuat — ekspektasi suku bunga Fed bisa kembali naik, memperkuat USD. Hal ini dapat menekan GBP/USD.
- Faktor eksternal seperti harga minyak, krisis geopolitik, atau pelemahan ekonomi global bisa membuat investor mencari safe-haven ke USD, melemahkan GBP.
